Kamis, 27 Juli 2017

THE SECRETS OF MOJAVE - CHAPTER 1 (HAV-MUSUVS)

THE SECRETS OF MOJAVE

CHAPTER 1 (HAV-MUSUVS)
(Gambar hanya ilustrasi belaka)

Penulis cerita berikut adalah seorang Indian suku Navaho. Dia mendapatkan cerita rahasia ini dari suku Indian Paiute, yang mendiami “The Great Basin” (Cekungan Besar) dan gurun Mojave di Utah, Nevada, dan California.
Penduduk asli Amerika yang bernama Oga-Make membeberkan cerita ini  sebagai rasa terima kasih terhadap cerita tentang Navaho yang muncul pada musim semi 1948 di sebuah majalah yang memuat sejumlah artikel mengenai "tanda-tanda" misterius atau "bola-bola api" di langit yang menyebabkan kebingungan dan perdebatan pada penduduk setempat selama tahun terjadinya peristiwa-peristiwa itu, dan juga pada tahun-tahun berikutnya.

Artikel pada bangsa Navaho yang muncul dalam edisi sebelumnya tersebut menceritakan penderitaan yang suku mereka telah lalui selama musim-musing dingin yang lalu,  dan menghimbau para pembaca untuk mengirim barang dan persediaan untuk membantu mereka melalui musim dingin mendatang '1948-' 1949,  setelah membaca artikel tersebut kenyataannya banyak dari para pembaca yang memberikan bantuan.

Sebagai rasa terima kasihnya , Oga-Make membeberkan 'legenda' berikut yang menceritakan sejarah rahasia masa lalu benua Amerika pada masa mungkin ribuan tahun sebelum orang kulit putih menginjakkan kaki mereka secara massal pada pantai-pantai benua Amerika :

Selasa, 25 Juli 2017

S.E.T.I : Search for Extra-Terrestrial Intelligence - Evolution of The Unknown - What is the universe made of?


Sabtu, 29 Juli 2017 | 10.00-17.00
Auditorium IFI Yogyakarta
Jl. Sagan No. 3, Yogyakarta
GRATIS
Evolution of The Unknown - What is the universe made of? adalah sebuah simposium yang mengundang partisipan yang bekerja di horizon “sudah diketahui”, dari berbagai macam bidang seputar sains, seni, astrofisika, astronomi, sains luar angkasa, kemanusiaan, dan bidang lain yang lebih tradisional. Kita bersama membagikan pengalaman mengkonfrontir yang “tidak diketahui” dan dampaknya pada budaya dan imajinasi. Partisipan juga diajak untuk berbagi pengalaman atau hasil pekerjaan, yang dapat menghasilkan pertemuan-pertemuan dengan yang “tidak diketahui”, dalam bentuk yang dapat diterima orang lain. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk bereksperimen terhadap yang “tidak diketahui”, yang akan berjalan selama simposium berlangsung dengan partisipasi dari hadirin.  

Special Guest Speakers :
  • Elizabeth Tasker (UK)
(Department of Solar System Sciences, Institute of Space and Astronautical Sciences - ISAS, Japan Aerospace Exploration Agency - JAXA)
  • Premana W. Permadi (ID)
(Astronomer / Senior Researcher, Galaxy and Cosmology, BOSSCHA Observatory, Lembang – Bandung, Indonesia)
  • Ilham A. Habibie (ID)
(Co-Founder, The Habibie Center / THC, Chair of the Institute for Democracy through Science and Technology / IDST, Leader of the National Information & Communication Technology (ICT) Council, Jakarta, Indonesia)

Speakers and Moderators :
  • Gunawan Admiranto (ID)
            (Astronomer, Senior Researcher, National Institute of Aeronautics and Space / LAPAN, Indonesia)
  • Chuangwit Pattama (Thailand)
      (Astronomer, Senior Researcher, NARIT - National Astronomical Research Institute of   Thailand, Bangkok, Thailand and TNO - Thai National Observatory, Chiang Mai, Thailand)
  • Mutoha Arkanuddin (ID)
      (Co-Founder, Jogja Astronomy Club, Yogyakarta, Indonesia)
  • Venzha Christ (ID)
      (co-founder v.u.f.o.c and HONF Foundation, Yogyakarta, Indonesia)
  • Anurak Chakpor (Thailand)
      (Astronomer, Senior Researcher, NARIT - National Astronomical Research Institute of   Thailand, Bangkok, Thailand and TNO - Thai National Observatory, Chiang Mai, Thailand)
  • Erianto Rachman (ID)
            (co-founder, Indonesia startrek community, Jakarta, Indonesia)
  • Yukiko Shikata (Japan)
     (Independent Art + Science Researcher and Curator, Director of AMIT, Tokyo, Japan)
  • Rene T.A Lysloff (USA)
      (Senior Researcher : PostHuman, University of California Riverside / UCR, California,USA)
  • Nur Agustinus (ID)
      (Founder, BETA UFO Indonesia, Surabaya, Indonesia)
  • Ferry M Simatupang (ID)
            (Astronomer, Lecturer - Cosmology,  Institut Teknologi Bandung - ITB, Bandung, Indonesia)
  • A. Sudjud Dartanto
      (Independent Curator and Writer, Indonesia Institute of the Arts, Yogyakarta, Indonesia)
  • Timmy Hartadi
           (Co-Founder, Turanggaseta, Yogyakarta, Indonesia)
  • Yuka Narendra
            (Researcher and Cultural Observer, Jakarta, Indonesia)
           
Acara ini terselenggara atas kerja sama ISSS (Indonesia Space Science Society), IFI LIP Yogyakarta, HONF Foundation, dan v.u.f.o.c.

Senin, 24 Juli 2017

Peran Pemerintah Indonesia dalam fenomena UFO

Oleh: Nur Agustinus

Pertanyaan ini jika diajukan hari ini pasti banyak orang yang skeptis bahkan mencibir. Tahu apa pemerintah Indonesia tentang fenomena UFO ini? Dengan banyaknya gunjang-ganjing politik di sosial media, orang akan ragu tentang kepedulian pemerintah tentang hal ini. Artinya, banyak yang harus diurusi oleh pemerintah. Jadi, untuk apa mengurusi hal yang tidak ada kejelasannya ini?

Mungkin bila pertanyaan ini diajukan di tahun 1980-an, kita akan mendapatkan petunjuk yang lebih menarik untuk bisa dibuat kesimpulan. Saat itu masalah UFO dibicarakan cukup banyak di majalah-majalah ilmu pengetahuan yang terbit di Indonesia. Sebut saja majalah mekatronika, Aku Tahu, Scientiae, adalah sebagian majalah sains yang sering dalam edisinya membahas soal UFO. Di samping tentunya ada juga majalah lain seperti Selecta, Hai, Senang, Liberty, yang sesekali menampilkan bertita tentang penampakan UFO serta pembahasan tentang hal ini oleh penulis-penulis terkenal di masa lalu. Salah satu penulis yang sering membahas soal piring terbang adalah Mpu Wesi Geni (alm).

Akan tetapi, pembahasan tentang UFO tetap saja dilakukan oleh orang-orang awam. Pihak sains yang berkarya di perguruan tinggi bisa dibilang tak ada yang tertarik mengintip masalah ini. Atau mungkin membahasnya di kalangan terbatas yang saling percaya akan adanya UFO tetapi tidak pernah secara terbuka membicarakannya di forum-forum ilmiah. Demikian juga pemerintah kita, hampir tak ada kabar beritanya tentang itu. Ya, di masa lalu, orang umumnya mengkaitkan pelaporan fenomena UFO ini ke LAPAN, yaitu Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. LAPAN dianggap seperti NASA-nya Indonesia yang diharapkan bisa menjadi jujukan referensi tentang  UFO saat itu. Memang sangat beralasan. Selain institusi ini adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian Indonesia yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya, di awal pendiriannya dan diketuai oleh Bapak Marsekal Muda TNI (purn) J. Salatun (alm), adalah seorang tokoh yang juga dikenal sebagai bapak UFO Indonesia. Hal ini tak lepas dari keseriusan beliau meneliti masalah UFO yang kredibel karena dari militer angkatan udara serta karya-karya buku yang sangat penting menjadi referensi tentang UFO di Indonesia.

Jika di masa lalu, LAPAN saat diketuai oleh Bapak J. Salatun peduli dengan UFO, sejauh manakah pemerintah Indonesia mengetahui tentang fenomena aneh ini? Apakah pemerintah kita peduli akan fenomena UFO?

Saya ingin menyampaikan sebuah fakta kejadian. Pada tahun 1976, Prof. Dr. J. Allen Hynek (alm.), peneliti UFO yang terkenal di Amerika Serikat datang ke Indonesia atas undangan Menteri Luar Negeri kita waktu itu, Bapak Adam Malik (alm). Pak Adam Malik meminta Pak Salatun jadi counter part Mr. Hynek. Pada tanggal 16 dan 20 Desember 1976, diadakan konferensi pers yang diliputi oleh TVRI pada tanggal 16 dan 20 Desember 1976. Liputan TVRI tanggal 16 Desember 1976 memberitakan tentang ceramah J. Allen Hynek dihadapan sejumlah perwira tinggi dan pejabat teras Departemen Hankam RI. Sementara tanggal 20 Desember 1976 di TVRI diadakan wawancara khusus dengan J. Allen Hynek yang menggugah perhatian para penggemar UFO saat itu. Saat itu dianjurkan kepada setiap orang yang menyaksikan UFO agar melaporkan kesaksiannya kepada pemerintah setempat atau LAPAN. Wawancara berlangsung bersama Bapak J. Salatun dengan Willy karamoy dan juga Ir. Tony Hartono (alm) yang memotret sebuah UFO di lepas pantai Cilamaya, Kerawang, Jawa Barat pada tanggal 22 September 1975.

Peristiwa di penghujung tahun 1976 itu menunjukkan bahwa sebenarnya pemerintah Indonesia mempunyai kepedulian terhadap fenomena UFO ini. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan saat ini? Apakah sudah tidak lagi membahas soal ini? Terlebih LAPAN saat ini seakan tak peduli dan tidak meyakini akan adanya UFO.

Saya tidak akan bahas hal tersebut, namun yang pasti, setelah itu, ketika ada orang melihat UFO, orang akan langsung terpikir untuk melapor ke LAPAN. Nah, pertanyaannya kini adalah, mengapa saat itu Bapak Adam Malik berkeinginan untuk mengundang J. Allen Hynek ke Indonesia untuk bertemu dengan peneliti utama UFO di Indonesia, Bapak Salatun? Apakah itu karena permintaan Pak Salatun? Atau atas insiatif dari Pak Adam Malik? Tentu tidak mudah mengetahui hal ini mengingat beliau berdua telah tiada. Namun kita bisa mencoba menarik kembali informasi-informasi yang ada tentang peristiwa yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.

Kita dapat mengetahui bahwa Bapak Adam Malik pernah terpilih sebagai Ketua atau Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa yang ke -26 pada tahun 1971.  Posisi presiden PBB ini dipilih setahun sekali. Dari informasi yang ada di internet, yang awalnya ditulis oleh seseorang yang bernama Steve Omar, diketahui bahwa Pak Adam Malik mempunyai seorang asisten yang meneliti soal UFO. Asisten ini bekerja untuk pak Adam Malik saat di PBB. Asisten ini seorang wanita dan bernama Farida. Saya pernah melakukan kontak melalui email dengan Steve Omar (tinggal di Hawaii) dan bercerita tentang Ibu Farida ini. Melalui penelusuran di internet, saya menemukan sebuah cerita pengalaman seseorang di Kanada bahwa seorang kenalan dari keluarganya yang datang ke rumahnya, bernama Farida, yang diketahuinya teman dari J. Allen Hynek, meninggal saat berada di rumahnya itu. Hal itu terjadi pada tahun 1978. Dia menjelaskan tentang sosok Ibu Farida ini dan sesuai dengan gambaran yang ada tentang beliau. Steve Omar sendiri tidak mengetahui kematian Farida dan merasa heran karena Farida dianggapnya tiba-tiba hilang. Saya menginformasikan ke Steve Omar bahwa Farida telah meninggal di tahun 1978. Saat itu memang banyak pemikiran bahwa peneliti UFO sering dikabarkan meninggal dunia secara misterius. Kisah meninggalnya Farida bisa dicari di internet di tulisan Mikecabre yang berjudul “Still Mystified, Still Haunted”.

Apa yang dilakukan oleh Farida dengan Pak Adam Malik di tahun 1971 hingga 1972? Di tulisan Steve Omar tersebut, kita bisa mengetahui bahwa February 1972, diplomat PBB Farida, yang menyelidiki UFO dan kontak-kontak awak UFO untuk Ketua Majelis Umum PBB (Adam Malik), mengatakan kepada agen-agen departemen bahwa ia telah dihubungi oleh sebuah pesawat ruang angkasa yang mendarat dari planet Mars. Kontak yang dilaporkan tersebut terjadi di Gurun Mojave, California, tahun 1971, dan diberitakan di surat kabar utama Republik Arizona. Cerita ini juga menjadi berita utama di San Clemente Sun-Post dalam sebuah artikel yang ditulis Fred Swegles, yang mewawancarai Presiden Nixon dan staffnya di Gedung Putih.

Dikemukakan oleh Steve Omar bahwa Farida mengatakan alien tersebut menawarkan untuk mengangkat seorang duta besar bagi konfederasi antar planet mereka dalam sistem tata surya ini, sebagai pertukaran untuk duta besar alien untuk Majelis Umum PBB, dalam usaha untuk mengadakan hubungan diplomatik dengan Bumi dan planet-planet lain yang dirugikan di jaman dulu karena kekerasan terhadap Bumi. Tetapi, persyaratan-persyaratan perdamaian ini tidak dapat diterima oleh Dewan Keamanan, dan pertukaran tersebut ditolak dalam sebuah pertemuan rahasia. Pak Adam Malik sendiri mendukung perjanjian dan pertukaran ini. Bu Farida dan Pak Adam Malik merasa frustasi karena usaha-usaha dari pihak PBB menghalang-halangi pertukaran ini, sehingga mereka kemudian mendatangi berbagai pihak dan mencoba membentuk sebuah dewan sipil untuk menangani masalah-masalah antara orang-orang Bumi dan Konfederasi Antar Planet dalam sistem tata surya ini.

Kalau kita membaca hal ini, maka tampak jelas jika Pak Adam Malik mengundang J. Allen Hynek ke Indonesia untuk bertemu dengan Pak Salatun serta sejumlah perwira tinggi dan pejabat teras Departemen Hankam, bukanlah hal yang hanya dilakukan asal-asalan. Beliau pasti punya pertimbangan khusus untuk mempelajari secara serius tentang hal ini.

Kita tahu bahwa Pak Salatun pada tahun 1982 menerbitkan sebuah bukunya tentang UFO yang berjudul  "UFO: Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini". Banyak orang saat ini yang membaca judul buku ini menjadi heran, mengapa UFO dianggap sebagai sebuah masalah? Apa bahayanya dan apa alasannya? Tentu, jika kita menelusuri ke tahun-tahun sebelum buku ini diterbitkan, tentang apa dan bagaimana yang dilakukan oleh Bapak Adam Malik serta kedatangan J. Allen Hynek berjumpa dengan para pejabat tinggi militer kita, jelas hal ini sebuah masalah yang serius.

Tentu, tidak semua orang bisa tahu tentang apa yang sesungguhnya diketahui oleh pemerintah Indonesia tentang UFO. Berbagai pemerintah negara lain sudah membuka dokumen-dokumennya tentang UFO, seperti Inggris, Brazil, dan lain-lainnya. Dokumen pelaporan tentang UFO di Indonesia bisa kita baca sebagian di dua buku karya Pak Salatun. Saat ini juga belum ada pensiunan pejabat tinggi militer kita yang mau berbicara terbuka soal UFO. Mungkin fenomena ini tidak lagi dianggap penting dan serius di Indonesia. Mungkin juga hal ini tidak menarik dibahas di situasi ekonomi dan politik saat ini. Akan tetapi, dengan kejadian-kejadian yang ada di masa lalu itu, pemerintah Indonesia pernah peduli dan tahu tentang keberadaan fenomena UFO ini. (na)


Sumber foto: RJ. Salatun, dengan kamera, di rumahnya, Jakarta, 1991. [TEMPO/ A. Sadek Hasan; 48C48001]




Pameran lukisan dan foto UFO





Cak Nun tentang kebenaran





Wawancara di Radio El Shinta





Eksistensi ET dalam kehidupan manusia





Kebenaran dan Kenyataan



Senin, 03 Juli 2017

Iuran dan donasi ke BETA-UFO

BETA-UFO adalah organisasi non profit. Dalam rangka kegiatan penelitian dan pengumpulan data, BETA-UFO sangat mengharapkan adanya bantuan berupa sumbangan pemikiran serta masukan dari segenap pihak. BETA-UFO akan berterima kasih bilamana ada yang berkeinginan memberikan sumbangan berupa dana kepada BETA-UFO.

Sumbangan dapat ditransfer melalui rekening bank:

Bank BCA
No rekening: 6190005231
a/n: Agustinus Nur Pratidina S.

atau

Bank Mandiri
KCP Surabaya Citra Raya
No Rekening: 1410014957872
a/n:  Agustinus Nur Pratidina S.

Dalam rangka menggalang dana, BETA-UFO menyediakan beberapa layanan/jasa atau penjualan barang, berupa kaos, CD/DVD-ROM, fotocopy buku, majalah, dll. Kiriman dana iuran atau donasi dari Anda akan sangat membantu kegiatan BETA-UFO.

Sejak Desember 2017, disepakati untuk diadakan iuran bulanan bagi yang punya kepedulian dengan BETA-UFO sebesar Ro 50 ribu per bulan. Iuran ini tidak mengikat.

Bukti transfer harap dikirimkan via WA ke 0818307319 (nur agustinus) atau bisa juga diupload ke group FB BETA-UFO maupun dikirim via inbox messenger ke FB Nur Agustinus 

Catatan:
Untuk melihat rincian transaksi dan saldo kas BETA-UFO, bisa dilihat di sini.
Buku kas dibuat sejak tanggal 6 Desember 2017 dengan saldo awal Rp 0,-

Form Laporan Penampakan UFO

Panduan laporan yang diharapkan bisa dibaca di sini